Pagi cerah dan awan biru yang sebagian
masih diselimuti warna tembaga menghantarkan saya dan teman saya Cang Surya
(begitu saya biasa memanggilnya) tiba di sekolah TK di kawasan Bintaro. Nampak
anak-anak ceria dan guru-guru yang sedang sibuk melakukan persiapan.
Saya masih menebak-nebak suasana
Pelita Desa itu seperti apa. Kalo dari namanya pastinya nggak jauh dari suasana
pedesaan. Suasana seperti itu yang bikin saya semangat untuk memotret kegiatan
outbound teman-teman dari TK tsb. Walaupun baru pertama kali saya mendengar
nama Pelita Desa, koq terasa tidak asing bagi saya dengan nama itu.
7 Juni 2015 sekitar pukul 8 pagi
kami berangkat. Lewat jalan tol kemudian jalan puspitek serpong. Jalannya rusak
bergelombang dan banyak lubang.
Akhirnya sampailah kami di Ciseeng sekitar pukul 9, tepatnya di Jl. H. Miing, Rawa Bangsa, Putat Nutug, Kecamatan Ciseeng, Bogor. Itulah alamat lokasi outbound Pelita Desa.
Benar saja perkiraan saya, suasana desa sudah terasa ketika kami disambut oleh para pemandu yang kebanyakan wanita dengan senyum ramah dan dengan sabar membimbing anak-anak ke lokasi pertama.
Beruntung sekali lokasi kumpul kami tepat di atas danau. Saya
sudah nggak sabar untuk meliput outbound dan mengelilingi lokasi yang luasnya
menurut info 2,5 hektare. Walaupun sesekali melintas perahu rakit di sisi saung
kami dan teriakan penumpangnya menggoda kami. Tapi saya harus menahan diri
karena saya harus mengikuti serangkaian acara ceremonial terlebih dahulu.
Selesai acara ceremonial di saung, anak-anak segera berhamburan ke luar. Rupanya bukan hanya saya yang
tidak sabar, anak-anak juga punya rasa yang sama.
Sebagai
outbound pembuka dan pemanasan buat anak-anak, diadakan lomba di tepi danau nan
sejuk diantaranya: pipa bocor, lomba bakiak, lomba mengeluarkan ban (evakuasi
ban), lomba tarik tambang dan masih banyak jenis permainan yang menyenangkan
lainnya.
Tak terasa
waktu makan siang telah tiba. Kami semua istirahat sembari menikmati santap
siang dengan menu yang sudah dijadwalkan. Sayur asem yang menggoda selera, ikan
asin, ayam goreng dan aneka menu lainnya. Lalapan sepertinya menu wajib di
sini. Sementara teman-teman kecil kita makan di saung, saya dan cang Surya
memilih makan di pinggir danau. Dalam hati saya, ”kapan lagi makan dengan
suasana seperti ini”. Sambil menikmati pemandangan orang-orang yang tengah
lomba mengayuh rakitnya, saya habiskan semangkuk sayur asem, sepiring nasi dan
lalapan di bawah pohon di tepi danau.
Untuk makan
kami tinggal memiliki dua kupon (1 kupon sudah kami tukar dengan makan siang
tadi) yaitu kupon snack dan minum es kelapa. Hmmm…mantap nih, nanti sore kami
akan tukarkan.
Setelah
santap siang dan sholat zuhur, kembali kita ke outbound.
Anak-anak
sudah kembali ke tim nya masing-masing. Satu tim sudah menaiki rakit dan mulai
mengayuh menuju permainan flying fox yang lokasinya berada di danau…wow
serunya. Sementara tim yang lain sudah mulai dengan aktifitasnya masing-masing.
Saya harus berlari ke sana ke mari untuk mendapatkan beberapa moment. Maklum
cuma 1 photographer dan 1 cameramen (cang Surya).
Meniti
jalan di tali temali membutuhkan konsentrasi, namun nampaknya anak-anak itu lihai
meniti jalan tersebut. Melompat lompat dari tonggak satu ke tonggak lainnya
menyeberangi kolam merupakan pengalaman mengesankan bagi anak-anak.
Membajak
sawah (”ngeluku”=bahasa Betawi) adalah hal yang mungkin nggak pernah
terfikirkan di benak mereka. Jangankan anak-anak, saya saja yang sudah tua
segini belum pernah yang namanya ”ngeluku”. Tapi di sini di Pelita Desa hal itu
bisa dilakukan. Ah rasanya ingin berlama-lama saya di sini. Menaiki luku yang
ditarik oleh dua ekor kerbau.
Flying Fox
atau Zip Line permainan yang sangat digemari itu sudah mulai. Saya harus
bergegas ke lokasi. Dari jauh saya sudah mendengar teriakan hysteria dari
peserta. Bergelantungan dan meluncur di ketinggian kira-kira 10m di atas permukaan
danau melalui kabel baja…wuuuush….seruuuuu…!! Satu persatu peserta meluncur
dengan mimik muka yang berbeda-beda. Ada yang tegang, ada yang tenang, ada yang
gembira, ada yang menjerit ketakutan bahkan ada yang berteriak kegirangan.
Menanam
padi adalah kegiatan anak-anak berikutnya. Tampak anak-anak antusias menjawab
pertanyaan dari instruktur mengenai padi. Mereka beramai-ramai terjun ke lumpur
hitam dan mulai menanam padi sambil tertawa gembira. Tak ada wajah murung yang
tampak dari raut mereka.
Acara
dilanjutkan dengan menumbuk padi bersama. Anak-anak tampak tidak canggung
memegang alu dan menggerakkannya ke atas ke bawah sebagai proses pemisahan
sekam dengan beras. Terdengar riuh suara lesung atau lumpang yang berbenturan
dengan alu. Jadi terbayang di benak, bagaimana serunya jaman dulu waktu Bintaro
masih ada orang menumbuk padi.
Ada lagi
yang nggak kalah menarik nih. Memerah susu sapi….!!! Asyiiikkk….Setelah mencuci
tangan bersih satu persatu anak-anak mulai memegang puting sapi dan
memerahnya…surrrrr…susu sapi pun keluar. Sungguh pengalaman yang luar biasa
yang kami dapatkan di sini.
Kami pun
berkesempatan menikmati segelas susu murni dingin. Wow mantap…. Sehingga saya
lupa menukarkan kupon es kelapa yang ternyata sudah kehabisan…
Matahari mulai
terbenam, kami dengan terpaksa harus meninggalkan lokasi. Hati bergumam bahwa
suatu saat saya harus datang lagi ke sini ke Pelita Desa…. Senyum ramah para
pemandu menghantarkan kami ….
Buat kamu yang mau informasi lebih detail mengenai pelita desa, bisa kunjungi : https://pelitadesa.wordpress.com/tag/pelita-desa/

0 komentar:
Posting Komentar